Photog by Peter Vidani
Powered by Tumblr

I am leaving you. But, it will never be about letting you go.

tentang tenang

yang dulu terbagi telah utuh kembali

kini, sunyi dini hari menyambut pagi dengan berani

.

haruskah kucari lagi?

.

sisi-sisi tak terusik

bait-bait tak berlarik

sampan-sampan tak bercadik

.

mungkin, sekedar pulang pada riang yang tenang

lalu menari hingga petang

Don’t kid yourself, and don’t fool yourself.
This love’s too good to last, and I’m too old to change.

Blackout - Muse

Remember remember, the 5th of November.

The glorious revolution of V with blowing the parliament building in Britain. Blowing the parliament is just a symbol of the revolution actually.

The question is do we need it in Indonesia?

Hell, no.

Our parliament member will just politicize it: to get sympathy they have lost, to gather support they have wasted, to collect the truth they have betrayed.

No, we dont need it. We will just end up wasting our tax money for their new luxury playground which they even dont visit it often. 

The point is exploding our parliament building just giving them a spa & massage center with luxurious gym and theater, of course with offices as additional feature.

Anyway, 5th November is Saturday. They dont even inside that building.

You are what you sh*t.

If “You are what you eat” is what we believed in, we need to be cannibal when we want to be somebody.

And cannibalism is exactly what happening right now. Friend eating friend, colleague eating colleague, leaders eating followers, etc. All of those just for the sake of being somebody: somebody rich, somebody famous, somebody in power.

Moreover, “You are what you eat” show us how consumptive our generations are. We determined someone by what he/she ate, read, studied, saw, visited, etc.

The point is not what we have consumed, but what we have produced. We need to look and think about someone by what he/she produced, what he/she cooked, wrote, taught, told, did, etc.

Result is what we need. Result and products are what this country miss the most. Result and products are what we need to see in determine someone, and of course the leaders: by what policy and change they made, not by what critics or compliment they received. 

Therefore, for the sake of results and products of change that we miss so much. I think “You are what you eat” is now obsolete.

“You are what you shit” would be appropriate.

thanks bro!
satryadamarjati:

Anantama Fauzan Azhima on the wall

thanks bro!

satryadamarjati:

Anantama Fauzan Azhima on the wall

"This is my quest, to follow that star
No matter how hopeless, no matter how far
To be willing to give when there’s no more to give
To be willing to die so that honor and justice may live
And I know if I’ll only be true to this glorious quest
That my heart will lie peaceful and calm when I’m laid to my rest"

— Joe Darion

Dalam rangka Hari Anak Jalanan Internasional, saya ingin berterimakasih kepada para wakil rakyat DPR RI yang akan mewakili anak jalanan mendapatkan tempat bernaung yang baru.Sekian.

Dalam rangka Hari Anak Jalanan Internasional, saya ingin berterimakasih kepada para wakil rakyat DPR RI yang akan mewakili anak jalanan mendapatkan tempat bernaung yang baru.
Sekian.

Sistem perwakilan Indonesia memang paling demokratis, sampai masyarakat pecinta bokep pun memiliki perwakilan di Senayan.

Sistem perwakilan Indonesia memang paling demokratis, sampai masyarakat pecinta bokep pun memiliki perwakilan di Senayan.

Dengan ini, saya berterimakasih kepada para wakil rakyat yang sukses mewakili rakyat untuk menikmati kemakmuran dan kesejahteraan.
Sekian.

Dengan ini, saya berterimakasih kepada para wakil rakyat yang sukses mewakili rakyat untuk menikmati kemakmuran dan kesejahteraan.

Sekian.

my wallpaper.

my wallpaper.

"Believe in me that you want it too. You never let somebody closed to you. Just promise me that you never let me down. Love me till the end of time."

— the adams

"Do you know what is my favorite ice cream? Ice-shiteru…
(aishiteru)"

— Kiki-chan’s BF

Alkisah, ada seorang teman saya yang baru sarjana jatuh cinta sama juniornya satu jurusan yang sama. Berhubung "Bunga--nama samaran" dan "Tersangka inisial T" kesannya udah jaman baheula, jadi saya samarin nama teman saya jadi Pihak Pertama (PP) dan gebetannya Pihak Kedua (PK)
Mari kita simak percakapan mereka:
Pihak Pertama: Jadi gini Mba PK, saya ini sebenarnya udah lama mau ngomong sama kamu masalah ini. Tapi belum ada keberanian, rencana ke depan yang jelas, dan ga tahu aja caranya gimana.
Pihak Kedua: Emang apa sih Mas PP? (kura-kura dalam perahu, pura-pura ga tahu)
Pihak Pertama: Iya. Jadi, saya tuh sampai harus diskusi panjang dulu sama Fauzan tadi malem. Trus akhirnya, saya pun putuskan untuk nge-bbm Mba PK untuk minta ketemuan. Sambil deg-deg-an saya membaca setiap reply dari Mba. Trus saya diskusi sama Fauzan reply saya bakal kayak apa, dan saya perhatiin teliti banget dari diksi kata sampai tanda bacanya...
Pihak Kedua: Iya...Terus...?
Pihak Pertama: Jadi, setelah diyakinkan Fauzan. Saya memutuskan untuk, ehm ehm (kura kura makan kerupuk, pura pura batuk) confess...
Pihak Kedua: Hah?
Pihak Pertama: Iya, saya memutuskan untuk invest. (Tiba-tiba ngomongnya jadi cepet)
Pihak Kedua: Eh? Invest?
Pihak Pertama: Dan hati-nurani saya (bukan hati nurdin saya. hati-nurani dipercaya tempat semua motivasi berprilaku positif manusia berasal, sedangkan hati-nurdin adalah antonimnya--red.) bertanya-tanya juga, apakah Mba PK ga keberatan buat incest? (pacaran satu jurusan biasa disebut incest--red.)
Pihak Kedua: Hah? Apa?!
Pihak Pertama: Ga keberatan buat invest...(Ngomongnya jadi cepet lagi)
Pihak Kedua: Aduh, maaf ya Mas PP. Saya masih belum jelas maksud Mas PP apa...
Pihak Pertama: Intinya sih, saya pengen propose ke Mba PK.
Pihak Kedua: Eh? (kaget, trus kura-kura bukan penyu, pura-pura ga unyuu...)
Pihak Pertama: Boleh ga Mba? (Nanya dengan serius, dengan posisi tangan hampir pegangan)
Pihak Kedua: Mmmm...Mmmm...(Masih kura-kura bukan penyu...)
Pihak Pertama: Boleh ga Mba? (dengan nada sedikit memaksa tapi kebanyakan memelas)
Pihak Kedua: Boleh sih Mas...(Belagak cool..)
Pihak Pertama: Jangan gitu Mba! Saya ini tulus pengen propose. Kalau emang boleh, tatap mata saya dalam dalam, trus bilang 'boleh'! (sambil megangin tangan, trus dengan nada memaksa bercampur putus asa)
Pihak Kedua: I..I..Iya deh..Boleh...(sambil menatap mata si PP)
Pihak Pertama: Makasi ya Mba PK, saya senang sekali Mba PK memberi saya kesempatan untuk propose Business Proposal yang udah saya omongin sama Fauzan...Jadi bisnis itu bakal bergerak di bidang...bla, bla, bla...
Pihak Kedua: ????
NB: Percakapan di atas ternyata cuma imajinasi saya di suatu siang dimana saya sudah tidak tidur dua hari terakhir, dan berniat untuk hibernasi. Padahal sorenya ada rapat bersama calon mitra strategis sekaligus investor buat perusahaan saya. Walhasil, saya meminta Vice President saya untuk datang mewakili saya untuk datang. (sebenernya memang bukan mewakilkan sih, emang dari awal mau ketemu bertiga, jadi gw aja yg males).
Dan memang si Vice President saya ini, (Pihak Pertama) dan si mitra strategis sekaligus investor (Pihak Kedua), punya track record Kasih Tak Sampai. Maksudnya bukan mereka jadi bintang video klipnya atau si Pihak Kedua mainin harpa dan si Pihak Pertama jadi harpanya, sama sekali ga. Tapi, si Pihak Pertama pernah dan masih punya hati pada Pihak Kedua yang merupakan juniornya di jurusan yang sama. Singkat cerita, mereka ketemu dengan tujuan ngomonging Business Proposal dan terjadilah percakapan di atas..